Manusia diciptakan berbeda-beda agar mereka saling mengenal dan bekerjasama. Demikian halnya tanaman beserta nutrisi yang dibutuhkannyas. Antara POC, MOL dan ZPT adalah jenis nutrisi yang berbeda, tapi kerjasamanya akan membuahkan hasil yang sangat baik untuk tanaman.
Mikro Organisme Lokal (MOL) adalah cairan yang terbuat dari bahan-bahan alami sebagai media hidup dan tempat berkembangnya mikro organisme yang berguna untuk mempercepat penghancuran bahan-bahan organik. Zat ini juga berfunsi sebagai dekomposer dan aktivator serta tambahan nutrisi untuk tumbuhan yang sengaja dikembangkan dari mikro organisme yang berada di sekitar tempat tersebut. Bahan-bahan tersebut diduga berupa zat yang dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan tanaman (fitohormon) seperti : giberlin, sitokinin, auxin, dan inhibitor.
Tujuan dikembangkannya Mikrooranisme lokal (MOL):
1. Untuk mengembangkan biang penghancur bahan organik (dekomposer)
2. Menambah aktivasi tumbuhan dan tambahan nutrisi bagi tanaman
Syarat terbentuknya MOL
1. Bibit/ Media bakteri yang berasal dari bahan-bahan alami
2. Makanan dalam bentuk glukosa (Gula dan air kelapa)
3. Makanan dalam bentuk Karbohidrat
Manfaat MOL
1. Sebagai starter dalam proses dekomposisi bahan organik
2. Sebagai starter untuk pupuk organik cair bagi tanaman
3. Penyedia nutrisi bagi tanaman
4. Membantu kelancaran penyerapan unsur hara/ nutrisi oleh akar tanaman, karena kandungan elektrolitnya
Bahan baku yang cukup terkenal untuk pembuatan MOL adalah menggunakan nasi bekas.
Selain bahan tersebut juga masih ada bahan lain yang bisa dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk MOL, seperti: limbah hijau, rebung bambu, keong mas, buah maja, bonggol pisang, sisa sayuran atau limbah pasar, sampah rumah tangga dan sebagainya. Ciri-ciri dari cairan MOL yang sudah siap dipakai adalah lewat bau yang ditimbulkan yaitu cairan akan berbau seperti tape.
Jika Anda tidak ingin menggunakan bahan-bahan sampah limbah rumah tangga, Anda dapat memanfaatkan bahan lain yang lebih bersih untuk membuat MOL yaitu menggunakan campuran buah nanas atau tape, nanas cukup dipotong menjadi kecil-kecil dan lebih baik hasilnya jika di tumbuk kemudian di fermentasi dengan menambahkan air dan gula. sehingga untuk Anda yang tidak menyukai hasil dari MOL yang keruh dan kotor bisa menggunakan bahan tersebut sebagai alternatif tanpa mengurangi manfaat dari MOL itu sendiri.
Seperti hal nya pembuatan kompos, MOL juga memerlukan makanan tambahan selama proses fermentasi. Makanan tersebut adalah gula, penggunaan gula tergantung pada jumlah MOL yang dibuat. Untuk satu liter air akan diberikan lima sdm gula. Selain gula,Anda juga bisa menambahkan air kelapa atau air nira, kemudian air tetes tebu juga dapat berfungsi sebagai makanan bagi mikroorganisme.
Proses fermentasi MOL terjadi dalam kondisi anaerob atau menggunakan media tertutup. Anda bisa menggunakan botol plastik, botol sisa tempat minyak goreng, drum dan wadah sisa cat air sebagai media fermentasi. Pada pembuatan MOL hindari penggunaan wadah yang berbahan dasar logam karena mudah berkarat. Untuk waktu yang dibutuhkan dalam pembuatan MOL sekitar lima hari sampai tiga minggu tergantung pada bahan yang digunakan
PENGERTIAN PUPUK ORGANIK CAIR
Pupuk organic cair adalah larutan dari pembusukan bahan-bahan organic yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia yang kandungan unsure haranya lebih dari satu unsure. Kelebihan dari pupuk organic ini adalah dapat secara cepat mengatasi defesiensi hara, tidak masalah dalam pencucian hara, dan mampu menyediakan hara secara cepat. Dibandingkan dengan pupuk cair anorganik, pupuk organic cair umumnya tidak merusak tanah dan tanaman walaupun digunakan sesering mungkin. Selain itu, pupuk ini juga memiliki bahan pengikat, sehingga larutan pupuk yamg diberikan ke permukaan tanah bisa langsung digunakan oleh tanaman. Dengan menggunakan pupuk organik cair dapat mengatasi masalah lingkungan dan membantu menjawab kelangkaan dan mahalnya harga pupuk anorganik saat ini.
SPESIFIKASI DAN MANFAAT
1. Mengandung giberlin Manfaat:
• Merangsang pertumbuhan tunas baru
• Mempebaiki sistem jaringan sel dan memperbaiki sel-sel rusak
• Merangsang pertumbuhan sel-sel baru pada tumbuhan
• Memperbaiki klorofil pada daun
• Merangsang pertumbuhan kuncup bunga
• Memperkuat tangkai serbuk sari pada bunga
• Memperkuat daya tahan pada tanaman
2. Mengandung alkohol(alcohol)
Manfaat : Sterilisasi pada tumbuhan (mengurangi dan menghentikan pertumbuhan mikroba pengganggu pada tumbuhan terutama pada daun dan batang, seperti, bercak daun (penyakit blas), jamur/khamir/cendawan serta spora organisme penyakit. Aplikasi dari pupuk cair organik : • 10 cc pupuk cair organik untuk 1-1,4 liter air. Disemprotkan pada mulut daun dan batang • Waktu yang dibutuhkan adalah pada pagi hari sebelum jam 10 pagi atau setelah jam 4 sore • Dapat digunakan dengan sistem infus
Terdapat dua macam tipe pupuk organik cair yang dibuat melalui proses pengomposan. Pertama adalah pupuk organik cair yang dibuat dengan cara melarutkan pupuk organik yang telah jadi atau setengah jadi ke dalam air. Jenis pupuk yang dilarutkan bisa berupa pupuk hijau, pupuk kandang, pupuk kompos atau campuran semuanya.
Pupuk organik cair semacam ini karakteristiknya tidak jauh beda dengan pupuk organik padat, hanya saja wujudnya berupa cairan. Dalam bahasa lebih mudah, kira-kira seperti teh yang dicelupkan ke dalam air lalu airnya dijadikan pupuk. Pupuk cair tipe ini suspensi larutannya kurang stabil dan mudah mengendap. Kita tidak bisa menyimpan pupuk tipe ini dalam jangka waktu lama. Setelah jadi biasanya harus langsung digunakan. Pengaplikasiannya dilakukan dengan cara menyiramkan pupuk pada permukaan tanah disekitar tanaman, tidak disemprotkan ke daun.
Kedua adalah pupuk organik cair yang dibuat dari bahan-bahan organik yang difermentasikan dalam kondisi anaerob dengan bantuan organisme hidup. Bahan bakunya dari material organik yang belum terkomposkan. Unsur hara yang terkandung dalam larutan pupuk cair tipe ini benar-benar berbentuk cair. Jadi larutannya lebih stabil. Bila dibiarkan tidak mengendap. Oleh karena itu, sifat dan karakteristiknya pun berbeda dengan pupuk cair yang dibuat dari pupuk padat yang dilarutkan ke dalam air. Pupuk organik cair tidak bisa dijadikan pupuk utama dalam bercocok tanam. Sebaiknya gunakan pupuk organik padat sebagai pupuk utama/dasar. Pupuk organik padat akan tersimpan lebih lama dalam media tanam dan bisa menyediakan hara untuk jangka yang panjang. Sedangkan, nutrisi yang ada pada pupuk cair lebih rentan terbawa erosi. Namun di sisi lain, lebih mudah dicerna oleh tanaman.
Jenis pupuk cair lebih efektif dan efesien jika diaplikasikan pada daun, bunga dan batang dibanding pada media tanam (kecuali pada metode hidroponik). Pupuk organik cair bisa berfungsi sebagai perangsang tumbuh. Terutama saat tanaman mulai bertunas atau saat perubahan dari fase vegetatif ke generatif untuk merangsang pertumbuhan buah dan biji. Daun dan batang bisa menyerap secara langsung pupuk yang diberikan melalui stomata atau pori-pori yang ada pada permukaannya.
Pemberian pupuk organik cair lewat daun harus hati-hati. Jaga jangan sampai overdosis, karena bisa mematikan tanaman. Pemberian pupuk daun yang berlebih juga akan mengundang hama dan penyakit pada tanaman. Jadi, ketepatan takaran harus benar-benar diperhatikan untuk mendapatkan hasil maksimal.Karena sifatnya sebagai pupuk tambahan, pupuk organik cair sebaiknya kaya akan unsur hara mikro. Sementara unsur hara makro dipenuhi oleh pupuk utama lewat tanah, pupuk organik cair harus memberikan unsur hara mikro yang lebih. Untuk mendapatkan kandungan hara mikro, bisa dipilah dari bahan baku pupuk. Untuk merangsang pertumbuhan daun, pupuk organik cair bisa disemprotkan pada tanaman yang baru bertunas. Sedangkan untuk menghasilkan buah, biji atau umbi, pupuk disemprotkan saat perubahan fase tanaman dari vegetatif ke generatif. Bisa disemprotkan langsung pada bunga ataupun pada batang dan daun. Setiap penyemprotan hendaknya dilakukan dengan interval waktu satu minggu jika musim kering atau 3 hari sekali pada musim hujan. Namun dosis ini harus disesuaikan lagi dengan jenis tanaman yang akan disemprot.
Pada kasus pemupukan untuk pertumbuhan daun, gunakan pupuk organik cair yang banyak mengandung nitrogen. Caranya adalah dengan membuat pupuk dari bahan baku kaya nitrogen seperti kotoran ayam, hijauan dan jerami. Sedangkan pada kasus pemupukan untuk pertumbuhan buah, gunakan bahan baku pupuk yang kaya kalium dan fosfor, seperti kotoran kambing, kotoran sapi, sekam padi dan dedak. Kandungan setiap jenis material organik bisa dilihat di tabel berikut. Secara sederhana bisa dikatakan, untuk membuat pupuk perangsang daun gunakan sumber bahan organik dari jenis daun-daunan. Sedangkan untuk membuat pupuk perangsang buah gunakan bahan organik dari sisa limbah buah seperti sekam padi atau kulit buah-buahan. Untuk lebih jelasnya, anda bisa saksikan video dari TIS berikut ini.
